Klien Kami Dulu Ragu Pakai Outsourcing Talenta IT, Sekarang jadi Klien Repeat Order

By KAZOKKU ID
Klien Kami Dulu Ragu Pakai Outsourcing Talenta IT, Sekarang jadi Klien Repeat Order

Saya masih ingat betul ekspresi Pak Dimas, sebut saja begitu, karena beliau minta identitas perusahaannya tidak disebutkan, saat pertama kali saya presentasikan layanan IT Manpower Outsourcing dari KAZOKKU. Tangannya bersedekap, alisnya sedikit terangkat, dan pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya adalah:

“Gimana kalau nanti talentnya nggak cocok sama tim internal saya? Atau lebih parah lagi, tiba-tiba resign di tengah proyek?”

Jika Anda bekerja di dunia Sales B2B, terutama di industri jasa seperti IT outsourcing, pertanyaan semacam ini pasti sudah sangat familiar. Dan jujur saja, saya tidak bisa menyalahkan beliau. Kepercayaan itu mahal, apalagi ketika yang dipertaruhkan adalah kelangsungan proyek dan reputasi tim IT di perusahaan.

Tapi cerita ini tidak berhenti di titik keraguan itu. Justru dari situlah semuanya dimulai.

Latar Belakang: Startup yang Kejar Waktu

Pak Dimas adalah CTO di sebuah startup fintech yang sedang bertumbuh cepat. Saat itu, timnya baru saja mendapatkan pendanaan seri A, dan mereka harus mengejar target peluncuran fitur baru dalam waktu tiga bulan. Masalahnya, tim engineering internal mereka hanya berjumlah lima orang, jauh dari cukup untuk menangani beban kerja sebesar itu.

Proses rekrutmen internal sudah mereka coba selama hampir dua bulan. Hasilnya? Nihil. Kandidat yang cocok susah dicari, proses interview memakan waktu, dan beberapa kandidat yang sudah diterima justru mengundurkan diri di menit-menit akhir karena mendapat tawaran lain.

Di titik itulah, salah satu rekan bisnisnya merekomendasikan KAZOKKU. Dan di situlah saya masuk ke dalam cerita ini.

Titik Keraguan yang Sebenarnya Wajar

Setelah pertemuan pertama, saya bisa merasakan bahwa Pak Dimas sebenarnya tertarik, tapi menahan diri. Keraguannya bukan tanpa alasan. Beberapa hal yang beliau sampaikan waktu itu:

  • “Saya khawatir kehilangan kontrol atas tim.” Beliau terbiasa bekerja dengan tim yang duduk satu ruangan, bisa langsung ditegur atau diarahkan kapan saja.
  • “Bagaimana dengan kerahasiaan data perusahaan?” Sebagai startup fintech, isu keamanan data adalah hal yang sangat sensitif bagi mereka.
  • “Apakah talent-nya benar-benar berkualitas, atau cuma asal comot dari database?”

Tiga pertanyaan ini sebenarnya adalah pertanyaan yang hampir selalu muncul dari setiap calon klien yang baru pertama kali mempertimbangkan outsourcing IT. Dan menurut saya, itu bukan tanda ketidakpercayaan, itu tanda bahwa mereka serius mempertimbangkan keputusan ini dengan matang.

Bagaimana Kami Menjawabnya, Bukan dengan Janji, Tapi dengan Proses

Alih-alih membalas keraguan Pak Dimas dengan jargon marketing atau janji manis, saya mengajak beliau untuk melihat langsung bagaimana proses kerja KAZOKKU berjalan.

Pertama, saya jelaskan bagaimana proses seleksi talent kami bekerja, mulai dari screening teknis, tes studi kasus, hingga wawancara oleh tim internal KAZOKKU sebelum talent tersebut direkomendasikan ke klien. Tidak ada talent yang “asal comot”; semua melewati proses kurasi yang ketat.

Kedua, untuk soal kontrol tim, saya tawarkan skema kerja yang transparan: talent yang kami tempatkan tetap mengikuti ritme kerja tim internal klien, ikut daily standup, dan bisa dievaluasi progres kerjanya secara berkala, persis seperti karyawan tetap, hanya saja tanpa beban administrasi rekrutmen dan payroll.

Ketiga, untuk isu kerahasiaan data, kami menunjukkan bagaimana setiap talent terikat NDA (Non-Disclosure Agreement) yang jelas, dan KAZOKKU sendiri punya SOP keamanan data yang bisa diaudit oleh pihak klien kapan saja.

Yang paling penting, saya tidak memaksa Pak Dimas untuk langsung berkomitmen jangka panjang. Kami sepakat untuk memulai dengan satu orang backend developer terlebih dahulu, sebagai “trial” selama satu bulan pertama.

Hasilnya? Di Luar Ekspektasi

Bulan pertama berjalan, dan talent yang kami tempatkan, sebut saja Rian, berhasil beradaptasi dengan cepat. Ia tidak hanya menyelesaikan task yang diberikan, tapi juga proaktif memberi masukan teknis yang ternyata cukup berharga bagi tim internal Pak Dimas.

Saya masih ingat pesan WhatsApp dari Pak Dimas di minggu ketiga: “Rian ini enak diajak diskusi. Kayak udah lama kerja bareng kita aja.”

Itu adalah momen kecil, tapi bagi saya, itu adalah titik balik. Keraguan yang tadinya begitu kental, perlahan berubah menjadi kepercayaan.

Namun bagi kami di KAZOKKU, cerita tidak berhenti di situ. Sejak hari pertama talent ditempatkan, kami selalu rutin memonitor perkembangan dan menjaga komunikasi, baik dengan pihak klien maupun talent. Tujuannya sederhana: memastikan keduanya merasa nyaman, setiap tantangan bisa direspons dengan cepat, dan kolaborasi berjalan dengan baik. Karena bagi kami, hubungan yang sehat tidak cukup hanya dibangun dari sisi klien, talent juga merupakan aset berharga yang perlu didampingi dan diperhatikan agar dapat memberikan performa terbaiknya.

Dari Satu Talent, Jadi Repeat Order

Setelah proyek pertama selesai dengan hasil yang memuaskan, Pak Dimas kembali menghubungi saya, kali ini bukan untuk bertanya “apakah bisa dipercaya”, tapi langsung bertanya, “Bisa nggak tambah dua orang lagi untuk proyek berikutnya?”

Sampai artikel ini ditulis, KAZOKKU sudah menempatkan total lima talent IT di perusahaan Pak Dimas, mencakup backend developer, QA engineer, hingga DevOps. Dan yang membuat saya paling bangga, beliau beberapa kali merekomendasikan KAZOKKU ke rekan-rekan sesama startup founder lainnya.

Pelajaran yang Saya Ambil

Dari pengalaman ini, saya belajar satu hal penting: keraguan klien bukan penghalang untuk closing, tapi justru kesempatan untuk membangun kepercayaan yang lebih kokoh.

Sebagai Sales, tugas saya bukan meyakinkan orang dengan kata-kata manis, tapi menunjukkan bukti nyata dan memberi ruang bagi klien untuk mencoba tanpa tekanan berlebihan. Kepercayaan yang dibangun pelan-pelan seperti ini biasanya jauh lebih kuat dan tahan lama dibanding closing instan yang dipaksakan. Bagi klien, inilah bedanya vendor yang hanya menjual jasa dengan partner yang benar-benar paham kebutuhan bisnis.

Penutup

Jika perusahaan Anda saat ini sedang berada di posisi yang sama seperti Pak Dimas, dulu ragu, tapi butuh solusi cepat untuk kekurangan tenaga IT, mungkin cerita ini bisa jadi bahan pertimbangan.

Kami di KAZOKKU percaya bahwa outsourcing tenaga IT bukan sekadar solusi jangka pendek, tapi bisa menjadi partner jangka panjang yang tumbuh bersama bisnis Anda. Jika Anda ingin ngobrol lebih lanjut soal kebutuhan tim IT di perusahaan Anda, jangan ragu untuk menghubungi tim Sales KAZOKKU. Siapa tahu, cerita Anda berikutnya mirip dengan cerita Pak Dimas.

KAZOKKU ID

KAZOKKU ID adalah pemilik artikel yang tercantum di KAZOKKU. Seluruh artikelnya dibagikan untuk memberikan Anda informasi terkait layanan Outsourcing Tenaga Kerja IT.

Artikel Terkait