Pertanyaan ini sering muncul dari dua sisi sekaligus. Dari sisi HR, biasanya muncul saat sedang menimbang cara paling aman untuk mengisi posisi IT tanpa harus langsung berkomitmen pada status karyawan tetap. Dari sisi talenta IT sendiri, pertanyaan ini muncul saat mereka sedang menjalani masa kontrak dan ingin tahu apakah ada jalan menuju status yang lebih permanen.
Jawaban singkatnya: ya, karyawan kontrak bisa menjadi karyawan tetap lewat jasa IT staffing, melalui skema yang disebut temp-to-hire atau contract-to-hire. Ini justru salah satu skema rekrutmen yang semakin banyak digunakan perusahaan untuk mengisi posisi IT secara lebih aman dan terukur.
Cara kerjanya sederhana: perusahaan mempekerjakan talenta IT dengan status kontrak melalui penyedia jasa staffing, mengevaluasi kinerjanya selama periode tertentu, lalu memutuskan apakah akan mengangkatnya sebagai karyawan tetap atau tidak. Bedanya dengan rekrutmen konvensional terletak pada dasar keputusannya, status karyawan tetap baru diberikan setelah ada bukti kinerja nyata di lapangan, bukan hanya berdasarkan CV dan hasil interview yang sifatnya masih dugaan.
Di KAZOKKU, skema ini tersedia melalui layanan Perekrutan Sementara untuk Karyawan Tetap, dan sudah digunakan oleh berbagai perusahaan besar di Indonesia untuk mengisi posisi IT strategis mereka. Bukan kebetulan skema ini semakin populer, bagi perusahaan, ini berarti keputusan rekrutmen jangka panjang dibuat dengan risiko yang jauh lebih kecil dibanding metode konvensional.
Bagaimana Prosesnya Berjalan
Saat dijalankan lewat KAZOKKU, prosesnya mengikuti alur yang sudah teruji dan tidak perlu dirancang ulang dari nol oleh tim HR internal. Secara garis besar, tahapannya berjalan seperti ini:
- Konsultasi kebutuhan: Klien menyampaikan posisi yang dicari, tech stack yang diperlukan, hingga durasi kontrak awal yang diinginkan.
- Penempatan talenta: KAZOKKU menyeleksi dan menempatkan kandidat dengan status kontrak outsourcing, sekaligus menangani seluruh administrasi tenaga kerja seperti payroll, kontrak kerja, dan kepatuhan ketenagakerjaan.
- Masa evaluasi: Klien menilai kinerja, kompetensi teknis, dan kecocokan budaya kerja kandidat berdasarkan kontribusi nyata di proyek, bukan simulasi atau tes di atas kertas. Kami merekomendasikan minimal 6 bulan untuk masa kontrak awalnya.
- Keputusan akhir: Paling lambat satu bulan sebelum kontrak berakhir, klien menyampaikan keputusan kepada KAZOKKU.
Dengan alur seperti ini, tim HR tidak perlu menambah beban operasional hanya untuk mengurus status sementara seorang kandidat. Inilah inti nilai dari skema ini: jika kandidat dinilai sesuai ekspektasi, KAZOKKU memfasilitasi proses pengalihan status dari tenaga kontrak menjadi karyawan tetap perusahaan secara transparan. Jika tidak, hubungan kerja dapat diakhiri tanpa proses pemutusan hubungan kerja yang panjang dan berisiko secara hukum, karena status kandidat masih berupa tenaga kontrak outsourcing, bukan karyawan tetap.
Justru di titik inilah letak keamanan terbesar dari skema ini. Risiko terbesar dalam rekrutmen, yaitu komitmen ke kandidat yang ternyata salah, sudah diminimalkan sejak awal melalui struktur kontrak semacam ini, jauh sebelum perusahaan perlu menanggung beban administratif maupun biaya pesangon yang biasanya menyertai pemutusan kontrak karyawan tetap.
Baca Juga: Apa Itu Layanan Contract to Hire? Ini Penjelasannya
Soal Biaya, Berapa yang Harus Disiapkan?
Ini adalah pertanyaan yang hampir selalu muncul setelah HR memahami konsepnya. Berikut perbandingannya:
Proyek Pengembangan Aplikasi Anda Sedang Kritis?
Jangan biarkan deadline terlewati. KAZOKKU hadirkan Developer dan Talenta IT ahli siap kerja, tanpa proses rekrutmen yang membuang waktu.
Konsultasi Sekarang!
- Biaya konversi di KAZOKKU: setara satu bulan biaya layanan (satu bulan invoice), saat kandidat resmi diangkat menjadi karyawan tetap.
- Biaya headhunter konvensional: umumnya sekitar 20% dari estimasi 13 bulan gaji kandidat.
Untuk posisi IT dengan gaji menengah ke atas, selisihnya bisa mencapai puluhan juta rupiah dalam satu proses rekrutmen saja. Bagi perusahaan yang mengelola beberapa posisi IT sekaligus dalam setahun, efisiensi biaya semacam ini berdampak nyata terhadap anggaran rekrutmen secara keseluruhan, bukan hanya pada satu kasus perekrutan.
Durasi masa evaluasi sendiri mengikuti panjang kontrak yang disepakati di awal, dan ini bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing perusahaan, mulai dari kontrak jangka pendek untuk kebutuhan proyek tertentu, hingga kontrak yang lebih panjang untuk posisi yang sejak awal memang diarahkan menjadi permanen. Namun, kami merekomendasikan 6 bulan untuk durasi kontrak awalnya, dengan batas waktu keputusan satu bulan sebelum kontrak berakhir, HR memiliki waktu yang cukup untuk melakukan evaluasi menyeluruh tanpa harus terburu-buru mengambil keputusan di saat-saat terakhir.
Lalu, Mengapa Sebaiknya Lewat Jasa Staffing, Bukan Dikelola Sendiri?
Secara teori, perusahaan bisa saja merancang skema kontrak-ke-tetap ini secara internal. Namun pada praktiknya, ini membutuhkan tiga hal yang sering tidak dimiliki tim HR secara memadai:
- Jaringan talenta IT yang luas dan tervalidasi: KAZOKKU sejak 2017 telah membangun jaringan talenta khusus di bidang IT, mencakup Software Developer, QA, DevOps, hingga IT Business Analyst dengan keahlian di Java, .NET, ReactJS, VueJS, dan berbagai teknologi lain yang paling dibutuhkan industri saat ini.
- Infrastruktur administrasi kontrak yang rapi: Mulai dari payroll hingga kepatuhan ketenagakerjaan, yang jika dikelola sendiri justru akan menambah beban operasional tim HR secara signifikan.
- Pengalaman menangani transisi status kerja secara legal dan efisien: Sehingga proses peralihan dari kontrak ke karyawan tetap tidak menimbulkan masalah administratif atau hukum di kemudian hari.
Dengan menyerahkan proses ini kepada KAZOKKU, perusahaan tetap memegang kendali penuh atas keputusan akhir, siapa yang diangkat, kapan waktunya, dan dengan syarat apa, tanpa harus menanggung kerumitan operasional yang biasanya bersembunyi di balik proses semacam ini.
Kapan Skema Ini Paling Masuk Akal Digunakan
Skema kontrak ke karyawan tetap akan paling terasa manfaatnya dalam beberapa situasi yang umum dihadapi perusahaan:
- Kebutuhan tenaga IT muncul mendesak, namun belum jelas apakah posisi tersebut akan permanen dalam jangka panjang.
- Perusahaan punya riwayat salah rekrut pada posisi IT tertentu, dan ingin menghindari risiko yang sama terulang.
- Prosedur rekrutmen internal terlalu kompleks dan lambat, sehingga membutuhkan partner eksternal untuk mengisi posisi secara cepat.
- Perusahaan sedang merencanakan ekspansi tim IT, namun kebutuhan jangka panjangnya masih dalam tahap validasi.
Jika satu atau lebih situasi ini terasa familiar dengan kondisi perusahaan Anda saat ini, kemungkinan besar skema ini bukan sekadar opsi cadangan, melainkan langkah yang sudah seharusnya diambil sekarang.
Mulai Evaluasi Talenta Sebelum Merekrut Tetap
Pada akhirnya, pertanyaan “apakah karyawan kontrak bisa jadi karyawan tetap” sebenarnya bukan lagi soal bisa atau tidak, melainkan soal bagaimana melakukannya dengan risiko dan biaya yang paling efisien. Skema ini memberi perusahaan ruang untuk membuat keputusan rekrutmen berdasarkan bukti kinerja nyata, bukan asumsi, sambil tetap menjaga fleksibilitas jika talenta ternyata tidak sesuai harapan.
Langkah pertama cukup sederhana: sampaikan kebutuhan posisi, tech stack, dan durasi kontrak yang Anda inginkan kepada tim KAZOKKU. Sebagai perusahaan outsourcing IT terpercaya, kami akan membantu memetakan kebutuhan, mencarikan talenta yang sesuai melalui jasa staffing IT yang sudah teruji, dan mendampingi seluruh proses hingga keputusan pengangkatan tetap diambil.
Konsultasi awal gratis. Hubungi kami via WhatsApp atau isi form di kazokku.com/kontak, tim kami siap membantu Anda.