Saya masih ingat hari pertama saya bergabung di KAZOKKU. Saat itu, saya berpikir bahwa pekerjaan saya sebagai konsultan staffing hanya akan berkisar pada menyeleksi CV, menelpon kandidat, dan menjadwalkan interview. Namun seiring waktu, saya menyadari bahwa pekerjaan ini jauh lebih dalam daripada sekadar mencari orang yang “punya skill”.
Di KAZOKKU, kami tidak hanya mencari kandidat yang mampu mengerjakan pekerjaan teknis. Kami mencari orang yang tepat, untuk lingkungan yang tepat, pada waktu yang tepat. Dan proses ini melibatkan banyak pertimbangan, percakapan, observasi, dan kadang intuisi. Saya ingin berbagi sedikit cerita tentang bagaimana proses itu berlangsung di balik layar.
Bagaimana KAZOKKU Menemukan Talenta IT Terbaik untuk Proyek Klien?
1. Mulai dari Mendengarkan
Setiap proses dimulai dari satu hal sederhana: mendengarkan. Saat ada klien yang membutuhkan talenta IT, kami tidak langsung bergerak mencari kandidat. Tidak langsung posting lowongan. Tidak langsung scan CV. Kami duduk terlebih dahulu dan mendengarkan.
Saya berbicara dengan pihak perusahaan, kadang HR, kadang CTO, kadang project manager. Dari percakapan itu, saya mulai memahami konteks yang jarang tertulis di job description:
- Apakah proyeknya sedang dalam fase kritis?
- Apakah tim klien sedang kewalahan mengejar deadline?
- Apakah klien membutuhkan seseorang yang bisa langsung “plug and play”?
- Atau seseorang yang bisa berkembang bersama tim secara bertahap?
Saya belajar bahwa satu posisi yang sama bisa membutuhkan karakter yang sangat berbeda, tergantung kondisi tim dan budaya internalnya. Itulah kenapa deskripsi pekerjaan saja tidak pernah cukup.
2. Membaca Lebih Dalam dari CV
Tahap berikutnya adalah mencari kandidat. CV memberikan gambaran awal, tapi seringkali hanya sebatas permukaan. Saya membaca CV bukan hanya untuk melihat skill: React, Java, Kubernetes, AWS, dan sebagainya. Saya mencari pola:
- Apakah ada gap panjang dalam riwayat pekerjaan?
- Apakah dia pernah bekerja dalam tim yang serupa dengan klien kami?
- Apakah dia pernah menyelesaikan proyek dengan skala kompleks?
Ada kalanya CV terlihat sederhana, bahkan “biasa saja”, tetapi orang di baliknya sangat luar biasa. Dan ada juga CV yang tampak megah, tapi setelah berbicara, kita merasa kandidatnya tidak memiliki dasar yang kuat. Konsultan staffing yang baik bukan hanya mengecek poin-poin checklist, tapi mampu membaca cerita di balik perjalanan seseorang.
3. Interview yang Lebih dari Sekadar Tanya Jawab
Saat melakukan interview, saya tidak mencari jawaban yang sempurna. Saya melihat bagaimana kandidat berpikir, bereaksi, dan menjelaskan. Misalnya, ketika saya bertanya: “Ceritakan situasi sulit yang pernah kamu hadapi dalam proyek, dan bagaimana kamu menyelesaikannya?”
Saya bukan hanya ingin tahu apa masalahnya. Saya ingin tahu bagaimana ia mengambil keputusan:
- Apakah dia menyalahkan orang lain?
- Apakah dia mampu berkolaborasi?
- Apakah dia mencari solusi atau hanya menunggu arahan?
Hal ini penting karena proyek IT, terutama yang berjalan cepat, membutuhkan orang yang mampu bekerja bersama orang lain, bukan hanya orang yang pintar. Saya pernah mewawancarai seorang developer yang sangat ahli, teknisnya tinggi sekali. Namun ketika ditanya tentang cara ia menangani perbedaan pendapat dalam tim, jawabannya singkat: “Ya kalau mereka tidak setuju, itu urusan mereka. Saya tahu saya benar.” Saya tahu saat itu juga, dia tidak cocok untuk tim yang kolaboratif. Skill tinggi tidak selalu berarti tepat.
4. Kolaborasi Teknis yang Objektif
Di KAZOKKU, proses seleksi teknis tidak hanya dilakukan oleh saya, tetapi juga melibatkan engineer dari pihak klien untuk memastikan evaluasi yang lebih mendalam, objektif, dan adil. Dari sini, kami melihat banyak hal:
- Bagaimana kandidat menstrukturkan logika pemikiran
- Bagaimana ia menulis kode yang mudah dibaca
- Bagaimana ia menjelaskan solusi secara sederhana
Saya selalu percaya, orang yang benar-benar paham, akan mampu menjelaskan dengan sederhana.
5. Mencocokkan Kandidat dengan Budaya Klien
Setelah proses seleksi, bagian paling penting justru adalah mencocokkan kandidat dengan budaya klien. Bahkan kandidat yang baik bisa gagal jika budaya kerja tidak cocok, karena ada perusahaan yang ritmenya cepat sekali, ada yang santai dan fleksibel, ada yang sangat formal dan birokratis. Ketika kandidat merasa nyaman, dan perusahaan merasa terbantu, itulah momen ketika semuanya menjadi sangat berarti.
6. Dukungan Setelah Penempatan
Banyak orang berpikir bahwa setelah kandidat ditempatkan, pekerjaan kami selesai. Namun bagi saya, justru di situlah awal perjalanan. Saya tetap menghubungi talent setelah minggu pertama, minggu ketiga, bulan pertama, dan seterusnya. Saya ingin tahu:
- Apakah mereka beradaptasi dengan baik?
- Apakah mereka merasa tertantang atau kewalahan?
- Apakah mereka mendapat dukungan dari tim?
Dan saya juga memastikan klien merasa puas dengan kontribusi mereka. Karena bagi saya, talent itu bukan sekadar resource, mereka adalah manusia yang punya tujuan, ambisi, dan kehidupan yang perlu dihargai.
Penutup
Menjadi konsultan staffing di KAZOKKU membuat saya belajar bahwa mencari talenta IT bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan perusahaan. Ini tentang menemukan orang yang tepat, di waktu yang tepat, untuk kesempatan yang tepat.
Saya merasa bersyukur setiap kali melihat kandidat yang saya tempatkan berkembang, merasa dihargai, dan memberi dampak nyata di perusahaan klien. Di saat itu, saya tahu pekerjaan ini bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah peran kecil dalam perjalanan orang lain untuk tumbuh.
Jika perusahaan Anda juga ingin menemukan talenta IT yang tepat dengan cepat dan efisien, percayakan prosesnya pada KAZOKKU. Dengan pengalaman dan jaringan profesional kami, kami siap membantu Anda menghadirkan tenaga ahli yang mampu mendorong keberhasilan proyek teknologi Anda. Hubungi kami segera untuk konsultasi lebih lanjut.