Penyebab Karyawan Berprestasi Resign: Ini Data & Cara Mencegahnya

By Rotcir
Penyebab Karyawan Berprestasi Resign: Ini Data & Cara Mencegahnya

Memahami penyebab karyawan berprestasi resign menjadi sangat krusial, karena ironisnya, saat perusahaan mulai benar-benar bergantung pada kontribusi besar mereka, sering kali mereka sudah berada di tahap akhir proses rekrutmen di perusahaan kompetitor. Di banyak perusahaan, fenomena yang paling membuat frustasi bukanlah kehilangan karyawan biasa, melainkan kehilangan karyawan terbaik. Mereka yang memiliki performa tinggi, cepat beradaptasi, dan menjadi rujukan tim justru sering menjadi orang pertama yang mengajukan surat resign.

Fenomena ini bukan sekadar asumsi. Berbagai riset dan data global menunjukkan bahwa high performer memiliki tingkat mobilitas karier yang lebih tinggi dibandingkan karyawan dengan performa rata-rata. Artinya, semakin kompeten seseorang, semakin besar pula peluang mereka untuk direkrut oleh perusahaan lain. Namun, peluang eksternal bukan satu-satunya penyebab. Banyak faktor internal yang tanpa disadari mendorong karyawan terbaik untuk mencari pintu keluar.

Artikel ini akan membahas data di balik fenomena tersebut, alasan utama mengapa karyawan bagus lebih cepat resign, serta langkah konkret yang bisa dilakukan HR dan manajemen untuk mencegahnya.

Data: Karyawan Berkinerja Tinggi Punya Risiko Resign Lebih Besar

Menurut beberapa survei ketenagakerjaan global, karyawan dengan performa tinggi cenderung menerima lebih banyak tawaran kerja dibandingkan rekan mereka yang lain. Hal ini masuk akal, karena mereka memiliki rekam jejak yang kuat, portofolio yang relevan, dan biasanya aktif membangun jaringan profesional.

Di Indonesia sendiri, tren ini semakin terasa di sektor-sektor seperti teknologi, keuangan, dan layanan profesional. Perusahaan yang sedang berkembang agresif sering kali tidak segan untuk “membajak” talenta dari kompetitor, terutama mereka yang sudah terbukti mampu memimpin proyek, berkomunikasi dengan klien, atau mengelola tim.

Namun, data juga menunjukkan fakta penting: sebagian besar karyawan tidak resign semata-mata karena gaji. Faktor emosional, psikologis, dan pengalaman kerja sehari-hari justru menjadi pemicu yang lebih kuat dalam jangka panjang.

Alasan Utama dan Penyebab Karyawan Berprestasi Resign

1. Kurangnya Tantangan dan Ruang Bertumbuh

Karyawan berkinerja tinggi biasanya memiliki karakter yang sama: mereka suka belajar, mencoba hal baru, dan berkembang. Ketika pekerjaan mereka mulai terasa monoton, mereka akan merasa stagnan. Tidak adanya proyek baru, pelatihan lanjutan, atau jalur karier yang jelas bisa membuat mereka berpikir bahwa masa depan mereka di perusahaan tersebut terbatas.

Bagi mereka, resign bukan sekadar pindah kerja, tetapi mencari ruang untuk tumbuh lebih besar.

2. Tidak Merasa Dihargai Secara Nyata

Apresiasi bukan hanya soal bonus tahunan atau sertifikat penghargaan. Banyak karyawan terbaik merasa kontribusi mereka dianggap “biasa saja” karena mereka memang selalu bisa diandalkan. Lama-kelamaan, hal ini menciptakan persepsi bahwa kerja keras mereka tidak lagi terlihat.

Dapatkan Tenaga IT Outsourcing Anda Segera!

Solusi hemat biaya untuk menemukan spesialis IT dalam waktu singkat.

Percayakan penyediaan tenaga IT Outsourcing Java Developer, .NET Developer, ReactJS Developer, VueJS Developer, Project Manager, dll kepada KAZOKKU agar Anda dapat fokus pada peningkatan daya saing bisnis.

Konsultasikan kebutuhan tenaga IT Outsourcing Anda secara GRATIS di sini!

Ketika ada perusahaan lain yang datang dengan tawaran bukan hanya gaji lebih tinggi, tetapi juga pengakuan atas keahlian dan pengalaman mereka, keputusan untuk pindah menjadi lebih mudah.

3. Beban Kerja yang Tidak Seimbang

Karyawan bagus sering kali menjadi “go-to person” dalam tim. Saat ada masalah, mereka yang dihubungi. Saat ada deadline mepet, mereka yang diminta membantu. Tanpa disadari, beban kerja mereka bisa jauh lebih berat dibandingkan rekan kerja lainnya.

Jika kondisi ini berlangsung lama tanpa kompensasi yang sepadan atau dukungan yang cukup, risiko burnout meningkat. Burnout inilah yang sering menjadi titik awal penyebab karyawan berprestasi resign yang paling umum.

4. Hubungan dengan Atasan Langsung

Banyak studi menunjukkan bahwa orang tidak resign dari perusahaan, mereka resign dari atasan. Karyawan terbaik biasanya memiliki standar tinggi terhadap profesionalisme, komunikasi, dan kepemimpinan. Jika mereka merasa tidak didengar, tidak dipercaya, atau diperlakukan tidak adil, loyalitas mereka bisa menurun drastis.

5. Visi Perusahaan yang Tidak Sejalan

Karyawan berkinerja tinggi cenderung ingin merasa bahwa pekerjaan mereka memiliki makna. Jika arah perusahaan tidak jelas, sering berubah, atau bertentangan dengan nilai pribadi mereka, motivasi bisa turun. Dalam kondisi ini, tawaran dari perusahaan lain yang memiliki visi lebih menarik bisa menjadi pemicu utama untuk resign.

Baca Juga: Jenis-jenis Tenaga Kerja di Indonesia dan Contohnya

Cara Mencegah Karyawan Bagus Lebih Cepat Resign

1. Bangun Jalur Karier yang Jelas dan Realistis

Karyawan terbaik ingin tahu: “Apa langkah saya berikutnya di sini?” HR dan manajemen perlu menyediakan peta karier yang transparan, termasuk kriteria promosi, pengembangan skill, dan peluang rotasi ke divisi lain.

2. Berikan Tantangan, Bukan Hanya Tugas

Libatkan mereka dalam proyek strategis, pengambilan keputusan, atau inisiatif lintas departemen. Ini bukan hanya meningkatkan keterlibatan, tetapi juga membuat mereka merasa dipercaya dan diakui sebagai bagian penting dari organisasi.

3. Lakukan One-on-One Secara Konsisten

Pertemuan rutin antara atasan dan karyawan bukan hanya untuk membahas target, tetapi juga untuk mendengarkan aspirasi, keluhan, dan ide mereka. Banyak potensi resign sebenarnya bisa dicegah jika masalah kecil didengar sejak awal.

4. Seimbangkan Beban Kerja

Pastikan karyawan terbaik tidak selalu menjadi “pemadam kebakaran” untuk setiap masalah. Distribusi tugas yang adil dan dukungan tim yang memadai akan membantu menjaga energi dan motivasi mereka dalam jangka panjang.

5. Perkuat Employer Branding dari Dalam

Employer branding tidak hanya ditujukan untuk kandidat eksternal, tetapi juga untuk karyawan internal. Budaya kerja yang sehat, komunikasi yang terbuka, dan kepemimpinan yang konsisten akan menciptakan rasa bangga menjadi bagian dari perusahaan.

Baca Juga: Masalah Ketenagakerjaan di Indonesia: Prediksi 2026 dan Solusinya

Penutup: Retensi Adalah Strategi, Bukan Sekadar Program

Mencegah karyawan bagus resign bukanlah soal satu kebijakan atau satu program HR. Ini adalah strategi jangka panjang yang melibatkan budaya perusahaan, kualitas kepemimpinan, dan pengalaman kerja sehari-hari.

Perusahaan yang mampu mempertahankan talenta terbaik biasanya bukan hanya yang menawarkan gaji tertinggi, tetapi yang mampu menciptakan lingkungan di mana karyawan merasa berkembang, dihargai, dan memiliki masa depan yang jelas.

Dengan memahami data, mengenali tanda-tanda awal, dan menerapkan langkah pencegahan yang tepat, HR dan manajemen bisa mengubah retensi dari sekadar reaksi terhadap resign menjadi keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.

Hai, saya adalah tech-recruiter yang memiliki minat di bidang IT, manajemen SDM, dan staffing. Dengan latar pendidikan manajemen, saya menyajikan informasi yang mudah dipahami seputar staffing talenta IT dan solusi outsourcing tenaga kerja IT.

Artikel Terkait

Contact Us